Focus our heart on… guess who? He he
Assalamualaikum, how are you? May Allah always light your
life and give His blessings upon you :)
Sudah lama sekali ngga menulis di blog. Beralih cukup rutin menulis press release kebutuhan kantor di tujuh bulan terakhir ini. It’s different, (enjoy both btw) but ya, writing in our blog is so much fun. Cause we can write everything we want and the way we write; we can be ourself J Yes, it is nice if we can be our self, being honest to our self, we don’t take any hard feeling about what will people "see". As long as we are trying to be good to ourself. This is what I want to write here in this post. About ourself, and people’s perspective, what should we focus on?
Sudah lama sekali ngga menulis di blog. Beralih cukup rutin menulis press release kebutuhan kantor di tujuh bulan terakhir ini. It’s different, (enjoy both btw) but ya, writing in our blog is so much fun. Cause we can write everything we want and the way we write; we can be ourself J Yes, it is nice if we can be our self, being honest to our self, we don’t take any hard feeling about what will people "see". As long as we are trying to be good to ourself. This is what I want to write here in this post. About ourself, and people’s perspective, what should we focus on?
Setiap manusia tidak
mau dipandang buruk oleh manusia lainnya. Ada juga yang tidak peduli sama
sekali dengan itu. Kita yang mana? Kita seharusnya menjadi manusia yang
memandang buruk dirinya sendiri. Agar senantiasa tawadhu (rendah hati), meminta pertolongan
Allah swt, dan menghargai orang lain bagaimanapun perangainya. Itu yang guru saya katakan.
Kita sendiri mungkin akan sedih jika dijudge “buruk”, sedangkan mereka tidak tau bagaimana “jungkir
balik” nya kita dalam berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Jika itu
terjadi, pertama, kita diingatkan agar introspeksi. Kedua, kita diingatkan juga
agar berusaha dengan ikhlas, tidak pedulikan pandangan manusia. Kesedihan itu
hanya akan melintas secepat kilat kepada seseorang yang memfokuskan dirinya
hanya pada Allah, bukan pandangan manusia. Bahkan boleh jadi tidak mampir
perasaan sedih itu sama sekali. Karena diatas itu semua, “Allah knows whats in
our heart.”
Yang di khawatirkan, ketika kitalah menjadi orang yang
menjudge bahwa diri kita yang lebih baik dari seseorang… Sedang kita tidak tau
bagaimana jungkir baliknya orang itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita yang berhijab merasa lebih baik dibanding saudari kita
yang belum berhijab misalnya. Lalu kita merasa oh we are closer to Allah than them,
Allah love us more. Apakah kita termasuk orang yang seperti itu?
Kaka perempuan saya, yang dulu belum berhijab mengalami
“pergulatan” dalam prosesnya. Kerap saya menemukan beliau, she was always
crying in front of her Creator, demi Allah, seeking Allah’s help to make
herself wearing hijab. Saya melihat kakak perempuan saya begitu serius meminta
pertolongan Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada dirinya. Saya melihat
tangisannya, bagaimana beliau bercerita kepada saya mengenai keinginannya. Saya
sendiri hanya tau bahwa ini perintah Allah dan dengan mudah mencoba
melaksanakannya dan mencoba istiqamah. Tidak ada galau, tidak pernah ketika itu
saya menangis meminta pertolongan Allah SWT. Dari situ saya sadar bahwa setiap
orang memiliki proses yang berbeda.
Ketika meminta 2 orang anak (A dan B) untuk berbicara
bahasa Inggris, lalu anak A sejak lahir tinggal di Inggris, dan anak B justru masih
sangat asing mendengar bahasa itu. Apakah adil jika kita menilai bahwa A jauh
lebih pintar dari B? Padahal sebelum test si B mati-matian belajar agar bisa
berbicara bahasa Inggris dengan lancar.
Setiap Ilmu yang baru
diterima, Bisa jadi mudah untuk seseorang, tetapi tidak untuk orang lainnya.
Pemahaman setiap orang berbeda, latar belakang setiap orang berbeda, keadaan
emosi setiap orang berbeda, Ilmu setiap orang berbeda.
Lalu apakah pantas kita merasa lebih baik dari seseorang,
padahal kita tidak tahu menahu apa yang ada didalam hati mereka? Bagaimana jika ternyata
malah Allah lebih mencintai mereka? Tidakkah kita malu dengan itu?
Allah SWT, yang tahu setiap hati manusia mengingatkan kita dalam Al-Quran:
“Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah satu kaum
memandang rendah kaum yang lain, Karena boleh jadi mereka (yang dipandang lebih
rendah) lebih baik dari mereka (yang memandang rendah), dan jangan pula
perempuan-perempuan memandang rendah/mengolok-ngolok perempuan lain, karena
boleh jadi perempuan (yang dipandang rendah) lebih baik dari yang (memandang
rendah)” (Qs. 49:11)
Bahwasannya Allah SWT perintahkan kita untuk berendah hati
(tawadhu) dan menghargai. Pun ketika kita menyampaikan / menasihati / atau "berdakwah", ketika dilakukan dengan cinta dan ketawadhuan rasanya akan sangat berbeda. Indah dan menyenangkan di hati yang menerima. Begitu Islam mengajarkan, ya?
Tetapi kita juga tidak perlu sedih akan pandangan orang
lain, Karena bahkan seharusnya kita memandang diri sendiri dengan penuh
kerendahan hati. Seperti pesan Ali r.a:
“Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain, Jadilah
manusia PALING BURUK dalam pandangan diri sendiri, dan Mulia disisi Allah swt.”
Diri ini yang perlu pertolongan Allah SWT, kita tidak tahu
apa yang ada dalam hati orang lain, kita tidak tau, kita tidak tau. Dan itu
tidaklah penting, yang penting hati kita dengan Allah. Dan hatimu dalam menjaga
baik saudaramu. Boleh jadi kita yang paling buruk di hadapan Allah SWT,
naudzubillah.
Sedih rasanya kalau sudah ingat ini :') Semoga kita termasuk orang-orang yang berusaha menjadi lebih
baik dan senantiasa tawadhu. Semoga Allah senantiasa membimbing kita selalu ya.. Aamiin
Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “Saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”
[Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 392.]
![]() |
| This is what we called as "love" we don't judge, we LOVE! |
See youuu!
Love,
Irna




