Pages

  • Home
  • About
  • Contact
Purnamairna. Powered by Blogger.
Irna R. Purnama
Bismillah

March 12, was always be my favorite day. Since I was a kid. 12 Maret adalah hari lahir Irna, dimana sejak kecil keluarga selalu mempersiapkan acara pesta ulang tahun. Acara yang meriah bagi ukuran sekitar lingkungan rumah saat itu. Sampai saat remaja, selalu ada hal-hal yang menyenangkan terjadi di tanggal itu. Surprise dari teman-teman, kado spesial, kejutan romantis, bunga mawar... surat cinta... ah, masa-masa remaja. hehehe. Namun Maa Syaa Allah, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, 12 Maret kini terasa penuh arti dan kebahagiaan yang sangat berbeda. Bukan karena ada kado spesial lagi, bukan karena ada acara ulang tahun, apalagi kue tart berlilin ataupun setangkai mawar dan sepucuk surat cinta romantis.


Kebahagiaan tiada tara.
12 Maret kali ini, tanpa ada niatan dan harapan apapun dalam rangka meperingati hari itu, Allah memberi kebahagiaan yang begitu luar biasa. Sebelumnya pada tanggal itu keluarga Irna hendak mempersiapkan acara syukuran 4 bulan kehamilan Irna, Namun setelah suami menyampaikan bahwa kami tidak melakukan acara 4 bulanan, alhamdulillah mama dan seluruh keluarga dapat memahami dan menyambut dengan positif. Pada akhirnya, karena mama tetap ingin berkumpul, kami mengadakan acara pengajian keluarga besar di rumah. Dan yang luar biasa, orang-orang tua terdekat Irna, yang sangat Irna cintai semua hadir di hari itu. Meski mereka datang dari luar kota. Tiga orang Mama, hadir dalam satu waktu. Mama kandungku, lalu Emak; orang yang telah merawat Irna sejak bayi hingga dewasa. Juga Inung; tante yang sudah seperti mama sendiri; karena beliau pun mengurus Irna sejak kecil. Mereka adalah tiga orang mama yang sangat sangat Irna cintai. Emak datang dari Tasik, jarak waktu 5 jam perjalanan ia tempuh, padahal 2 jam perjalanan saja emak biasanya mual dan muntah. Demi Irna, katanya. maasyaaAllah. Sepupu, dan seluruh kakak-kakak kandung pun dapat hadir ketika itu. Luar biasa karena sulit mengumpulkan kami dengan lengkap bahkan disaat lebaran, karena kami semua sudah berkeluarga, hingga waktu berkumpul seringkali 'bentrok' namun maasyaaAllah qadarullah saat itu berbeda. Irna bahagia sekali, mereka semua ada disamping Irna. Lalu kami sama-sama mendengarkan tausiyah yang begitu menyentuh, yang disampaikan oleh kakak sendiri, MasyaaAllah.. membuat kami menangis hampir di sepanjang tausiyah.. Dad, you must be so happy up there.. insyaaAllah. Berkumpul bersama orang-orang terkasih, terlebih dalam rangka re-charge iman, bersama-sama mengingat dan menyebut kebesaran Allah ta'ala adalah kebahagiaan yang tiada tara. Allah, 12 Maret ini, dimana justru kami memilih ta'at kepadaMu, tidak melakukan apa-apa yang kami khawatir Engkau tidak meridhoinya, Engkau justru memberikan kebahagiaan ini, dikumpulkan bersama orang-orang tersayang, dan diingatkan betaaaapa kebahagiaan itu ada dalam ketaatan kepadaMu, bersama kami memohon agar Engkau memberikan kami hidayah hingga mati, diselamatkan dari siksa kubur dan api neraka, dan dimasukan kedalam SurgaMu. aamiin.

Birthday Story.
"Sayang, I know it's your birthday.. I just love you everyday.. I know you understand "
Kata-kata suamiku yang aku ingat ketika pertama kali menginjak 12 Maret bersama. Aku tahu beliau agaknya khawatir aku belum sepenuhnya sepaham mengenai hukum mengucapkan atau memperingati hari ulang tahun. Hm.. duluuu sekali, awalnya sempat berfikir:

1. Niat kita kan membahagiakan mereka, lalu dimana salahnya? asalkan kita tidak menghambur-hamburkan uang/makanan ataupun membuat acara yang tidak bermanfaat kan?
2. Kalau hanya sekedar memberi hadiah dan mendoakan di hari ulang tahun, masa sih ngga boleh juga?
3. Yah.. nanti di setiap ulang tahun ngga akan dapet kejutan romantis lagi dong... :(

Hehehe. Alhamdulillah pertanyaan-pertanyaan itu kini terjawab. Dan kini sangat bersyukur Allah ta'ala pahamkan mengenai ini. MaasyaaAllah kita hidup tidak hanya di dunia, dan semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Kebahagiaan yang kita nilai dan tuju pun bukan lagi hanya ukuran kebahagiaan di dunia saja, namun ketika hisab..hingga akhirat.

Islam mengajarkan untuk saling memberi hadiah dan menunjukkan kasih sayang kapan saja, setiap saat. Bahkan untuk suami istri, maksimalkan setiap harinya! begitu Ust. Syafiq dalam ceramahnya. Terasa, insyaAllah bagi mereka yang paham dengan ini, justru akan senantiasa membuat kita selalu bahagia, karena merasakan kasih sayang yang rasanya makin bertambah setiap harinya..misalnya, tiba-tiba memberi sesuatu di waktu-waktu yang unpredictable, meski hal-hal yang kecil, karena tanpa ekspektasi, itu seringkali menjadi kejutan indah yang romantis yang tidak hanya terjadi di waktu tertentu saja. Maka jika kita jalani sunnah yang satu ini, insyaAllah kita ngga perlu lagi menanti-nanti hari yang satu. Karena kita sudah lebih dari cukup dibahagiakan setiap harinya :)

Kalau hanya sekedar memberi hadiah dan mendoakan masa sih ngga boleh juga? Niat kita membahagiakan mereka? - Insya Allah kini kita yakin, niat mengharap ridhoNya adalah lebih utama di atas segalanya. Bagaimana jika kita ingin membahagiakan orang-orang yang kita sayangi dengan cara yang tidak diridhoi Allah ta'ala? Kita ingin membuat manusia bahagia namun mengecawakan Allah? Karena Allah tidak menyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi dan tidak pula untuk yang lainnya. "Bahkan dalil-dalil syar'i dari kitab ataupun assunnah menunjukkan bahwa perayaan hari kelahiran merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) mereka yang berbeda aqidah (menentang Allah dan RasulNya). "barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut." Maka yang wajib  atas kita para Muslim adalah meninggalkannya, mengingkarinya, tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang mengesankan membolehkannya." --> (sumber: almanhaj.co.id) InsyaAllah banyak sekali penjelasan dari mulai sejarah hingga penjelasan hukum mengenai hal ini. Banyak sekali ternyata tuntunan Islam tentang bagaimana kita membahagiakan pasangan, saudara-saudara kita. Dan insyaaAllah kebahagiaan yang kita rasakan akan jauh berlipat-lipat kalinya, karena ia dilandasi ketaatan.. :) Dan insyaaAllah, berbuah kebahagiaan pula hingga akhirat kelak. Bukan kebahagiaan yang justru merugikan kita nanti 'disana'. aamiin :)

Ada hal yang tidak tergantikan oleh apapun, yaitu.. ketika orang-orang yang kita cintai begituuu mencintai Allah dan RasulNya, hingga mereka berusaha untuk ta'at, berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena khawatir Allah tidak meridhoinya. dimulai dari hal-hal yang terkecil. Maasyaa Allah. Maka apalagi yang kita inginkan? Percayalah, mereka yang berusaha mencintai Allah dan RasulNya, adalah mereka yang benar-benar membahagiakan kita.. karena akhlak mereka terhadap kita, yang 'melatih' , yang menjadi 'mentor' mereka adalah Ia manusia mulia, yang terbaik akhlaknya, yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Maka tidak diragukan lagi. Mengapa Irna begitu yakin dan meyakinkan hal itu dalam tulisan ini? Qadarullah, I just share what I feel and what is right insyaaAllah. Agar teman-teman pun percaya, ini bukan hanya teori. :')

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat ya buat teman-teman :) And I hope we are all feel the true happiness: kebaikan dunia akhirat, yang insyaaAllah akan menyelamatkan kita sehingga bisa terus berbahagia sampai surgaNya. Aamiin yaa Rabbal'alamin. <3 p="">Wallahu a'lam. 

(supporting image by freepik)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bismillahirrahmaanirrahiim
Selamat Idul Fitri, Taqabalallahu Minna Wa Minkum Semuanyaa :)



Bersyukur atas segala nikmat yang tidak terhitung. Mashaa Allah Laa Quwwata Ila Billah. Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud. Semoga setelah Ramadhan usai ini, kita bisa lebih baik lagi, semakin meningkat ibadah dan bertambah ilmu agama serta kekuatan dalam menjalankannya. Ust.Khalid Bassalamah dalam kajiannya menerangkan bahwa ada dua tanda diterimanya amal ibadah kita ketika Ramadhan. Pertama, harapan; mengharap keridhoan Allah dan dierima amal-amalnya. Dan kedua, amalan yang terus dilakukan (istiqamah) setelah Ramadhan usai. Tilawahnya tetap banyak, ibadah-ibadah lainnya juga tetap maksimal di bulan-bulan setelah Ramadhan. Wallahu a'lam.

Tidak Terasaaaaaa!
Sudah lama, hampir satu tahun tidak menulis di blog. Banyak hal yang berubah. Hampir semuanyaaa. Lingkungan baru, keluarga baru, kebiasaan baru, pekerjaan baru, tempat tinggal baru, :') dan..... 
STATUS BARU HUAAAAAA!!! One step of life been through


W - I - F - E !!!

Yes!

Now I'm a wifeeeeeeeeeeeee ToT
A Wife of  wonderful man who never chase to make me grateful Alhamdulillah
La Quwwataa Ila Billah Mashaa Allah.

Idul itri kali ini berkumpul dengan keluarga besar baru. Terasa rindu karena tidak merasakan suasana Idul Fitri yang sudah belasan tahun dirasakan bersama keluarga sendiri. Masakan Mama, berkumpul dengan kakak-kakak dan keponakan. Wangi aroma rumah dan suasana saat berjalan kaki untuk shalat Ied lalu bertemu para tetangga.. :') Tapi juga senang merasakan suasana baru..senang sekali. Mudik ke Tasik kali ini juga berbeda karena ditemani suami plus Mama dan Papa baru! :) Sayang Kaka dan Aa ngga bisa ikut karena Kaka mendapat giliran berlebaran di rumah Aa, suaminya.

Ohiya, perjalanan sejak awal proses hingga akhirnya menikah cukup membuat kenangan buat susah lupa. yang mudah-mudahan ada manfaat dan pelajaran yang dapat diambil untuk teman-teman meski sedikit saja. We'll see you in the next post ya! Inshaa Allah :)

Semoga teman-teman selalu sehat, berkah dan selalu dilindungi Allah Swt. aamiin

Salam,
Irna

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Assalamualaikum everyone!
Happy Fasting :) It's the last ten of Ramadhan. It's time to maximize our prayers to get His rahmat. May this Ramadhan bring us to the brighter light in life :) aamiin. 
I just have some photos and going to tell a short strory about that. hehe
Cause a moment won't be back, it is so unfortunate if we have moments that we love but it's gone and we forget it. In the other hand, we can keep it so one day we can look back to that moment and say "alhamdulillah" again for that :)

One unremarkable moment happened to me in the middle of April. When there was Press Conference about Raef, an Islamic Singer from UK exactly in Washington DC came to Indonesia as a brand ambassador of Zatta Men. The Press Conference was held in Bandung.
So When I was entered the press conference's room, I saw the grand piano. My family and my close friends knew that I'm quite crazy about piano I'm so in love with it (and actually still hoping that I could learn more to play it to make me professional in it.) Well when I saw the grand piano oh I really want to play it but at that time it's quite impossible since I have to do many things as I'm a PR for the press conference. 

Since I do love Raef's song, I started to search the chord of his song while still expecting to play the grand piano later. And....! It was came true! The Press Conference had done, The piano looks sad alone in the quite huge room..I know he asked me to come to him and have a chitchat together. Well I sat in front of the piano.. "Hey.. do you mind if I play you?" "Sure, I'm waiting for you since the first time we met!" "Really? Oh me too!!" 

Then I played the grand piano with all of my heart. I miss it since many years. It's like I found my missing part of my heart. Oh I really love to play the grand piano. 

Then, When I was playing it, Raef came and recorded my piano playing! I was so surprised and I stopped my playing. "No no..keep going it's beautiful" he said.

"okay..but..um..would you sing your song and I play the piano?"
"Oh sure.. what song?"
"You're the one?"

Then finally Raef was singing You're the one while I was playing the Piano
I was so happy, it such a very bery cherry nice day for me :)




See You in the next Post!
Loves,
Irna
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
February 2015

In the name of Allah Most Gracious, Most Merciful
Assalamualaikum everyone! It was since November I have not share anthing  yet. But don’t you know? From November until now, February, I had been through many things that i do not know what to say Oh Ya Allah it is just like.. all the feelings cames at one time. I was facing the situation that could change my life. Got the deal again with the word “ikhlas” , “surrender” (and I know that learning and understanding those things will be never end until we go back to Allah SWT.) and I really realize that myself have no power, you know, laa haula walaa quwwata illa billah. It’s really true that there is no power or any ability except from Allah SWT.  We are human. Allah created us. Without His help I may be in lost.
Learning process is always happens everytime. Through what we feel, what we see, through what happens around us. Through mistakes, missunderstanding, bad things, and nice things. And all the things that happens are the gift. Yes, it is a gift. Alhamdulillah.
I have posted about my “another phase of life”. Now I have more complete story to share. I do not know, I feel that I found many lessons and I want to share them to you.

First, about Choice.
“do I really have a choice?”

It was in the begining at the new department in my office I feel some pain (I’m so sorry for saying this) but I could not share here the reason why.  But in my last post I said:
 There will always be pain and pleasure.
And there will always be fear, that you can change into power.”
When I feel those feelings, I was asking Allah to make my feeling better.
Then, somebody called me. She is a General Manager of a company, approached me for a job that interest me pretty much. Sure, I’m excited. Then I met her (somebody who called me). She want me to join her team. Considering my condition lately, of course I’d love to say "yes!". And I thought “Oh Allah, did YOU answer my prays right now?” I found some dots of Brightness. 

In the other hand,
My manager (in my office at that time) told me that I have to prepare my self because I will get promotion to be a team leader. So I feel like I have a choice between..become a team leader or move on. I thought about it for a long time, I talked to someone who I consider as my mentor, Pak Rizki. He said hold on. Think about it. “I don’t want you to leave this company, let’s face the challenge together.” That is the conclusion of our meeting that time.

I also talked to my friend. I guess he could gimme another perpective and yes he can. He said, “you have three choices;
1. you leave,
2. Stay and you just need to be patience,
3. Stay, and change the condition! And I suggest you to choose number three.”
He said that everywhere we are, we might be face something we don't like. So it’s not about the environment or places; it is not about “where we are” but “WHO WE ARE?” how we face it. I remember what he said “karena sesuatu yang kurang enak, tantangan, keadaan yang susah, itulah yang akan membentuk kita.” He is right tho.

“do I really have a choice between stay and leave?”
I said to my friend “I think I dont need to choose, let Allah show me the way.” I was so sure that I don’t need to decide anything but let Allah show me what should I do next. Even in my deepest heart I know what I want: I really want to leave.

But it was right. Someone who approached me called me again, and she said “Dear Irna, I am so sorry that I could not aprroach you because of “something” (I couldn’t say here) and I can approach you again in one or two years after you resign from your current company.
I was so sad and hopeless. I can be approached after one or two years after my resignation? :’( Yes, this is the answer. I was right that I don’t need to choose between stay and leave. Allah show me the the way.

Oh Ya Allah YOU know this is not what I want. But I have to face this. I have to trust YOU that this is the best from YOU. It’s okay to be sad, it’s okay… I just have to wait for another “surprise”

After that, the condition was getting better. There were many things that make me happy in there such as I have Ka Tiara who are really nice, we can laugh together all day long. I have A Oda too, he is very kind and also smart, and some another friends in the office. I’m also happy with this department’s new morning spirit habit. We started to recite Qur’an together every morning. I can go home with my friend too (since it’s quite far between home and office). But one thing left behind in my mind:

I don’t believe in choice anymore. I don’t think that I need to pray for what I want anymore. It was only “Ya Allah, You know what’s the best for me and I don’t know at all. I don’t wanna ask you what I want because I don’t know if it’s good or not for me. And I’m afraid I will be sad if I pray for what I want but then it’s not good for me. So Ya Allah just give me a beautiful heart which can be grateful for whatever you gave me. And make me happy because I'm feel so close to You."

Then, the condition was getting worse again. But again, I could not talk to anyone about this. Nobody even my friends at office understand exactly the reason why and I could not tell them at all.

I feel something “blue”, I have no clue. Condition and situation started from 9am in the morning untill 7pm was full of sadness in the deepest of heart , I feel uncomfortable. I could not describe what happened. But the good things is.. every dhuha, dzuhur and ashar I can really feel selfless in my shalat and pray. I tell Allah what I feel and with full of resignation and I ask HIM to give me a brighter way. I was always crying in front my creator and it was felt so wonderful. It was happened everyday..There is always a bright side even in the darkness. I also felt grateful and I was realized that without that condition may be I wont feel that wonderful selfless with full hope resignation in my shalat and prays

It was about a month in that ‘worst’ condition, while I was seeking another path for my carrier at that time, somebody called me.

“Assalamualaikum Irna,”
“Waalaikumsalam..Ms..”
“Apa kabar.. gimana disana? Kamu masih mau ngga sama tawaran saya?”

I am sure you all do understand how does it feel :’) I don’t want to say loud it here just lemme keep it only between me and Allah. All praises to HIM. 

So Allah has already answer my pray after those sadness feelings. In the end I am grateful for all the things happened. Without feel the sadness, we might be never know what happiness is.

"Fa innama al usri yusra..innama al usri yusra"
we know that Allah knows what’s the best for us while we don’t know. I am waiting for your thought in comment okay? And thank you for reading this very long post :’) See you in the next post insha Allah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Thari in her blog, Sept 6th 2010:
"Cuma sekitar 3 minggu ada disana, tapi rindunya bukan kepalang...
there is no place could understand me before, dengan ketenangannya, dinginnya, sejuknya, dan keharmonisannya..
walaupun bukan ruanganku seutuhnya (karena aku berbagi dengan saudariku), tapi justru itu yang aku rindukan..
dengan adanya sikap saling berbagi...



eh na, aku kangen tidur sama kamu, nonton bareng, beresin kamar, jalan2 cicileupeungan berdua, beli makan bareng, ke resto, starmart, cerita2 tentang neng geulis, galih, ngaji, solat, dan lainnya :(
nanti aku bawa film baru naaaaa.. KITA NONTON \(^o^)/" 
.
❤ I miss u Thariiiiii ❤

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Bismillah. Holiday just arrived really in the very right time, -when great movies coming!- Ya, one of them is Habibie & Ainun which I watched yesterday with my brother, my sister and Chaca-kimi also. I can say I love the movie. More and more because Reza Rahardian was really did a great act as Habibie.
...
"Aku tidak bisa berjanji.. aku tidak bisa berjanji untuk bisa menjadi istri yang baik. Tetapi aku berjanji.. aku akan membantumu untuk memenuhi janjimu, menjadi suami terbaik.."(ainun)
Well, well, why I write the sentence? It's still far from me. I even just finished my 7th semester's Final Projects. I still have 3 more semesters, and some of the other stuff. (talk to myself sensitively) x_x he he it's ok. I am not way too young to talk about it right? :) (answer my self calmly) <--weird -.-="-.-" .="." p="p">


That's the sentence that I remember and stole my heart the most. However..someday, (Insya Allah), I also will become a wife. A 'profession', that really matter for my life..here, in this world, and there, akhirat. Something that I will run and bet half of my dien(religion). 
Kehidupan pernikahan itu, bagaimana aku mengabdi, kepada siapa aku mengabdi..mempertaruhkan separuh dienku.
Because a marriage is the way to perfected the dien.
"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah, pada separuh lainnya." (Muhammad Rasulullah saw.)
 A husband's role really important. It might be will be the most important thing in my life then, because he is the way..the bridge..partner..to perfected my dien.
"Karena sahabat sejati (pasangan) cakupannya bukan hanya di dunia saja. Namun juga akhirat"(Abu)
 You believe that Allah will give us the best? I do. as always. I do believe that the special one,my partner,my sahabat sejati, is really the best. And he will be the best husband. Aamiin.
...
"...dan aku berjanji...akan membantumu untuk memenuhi janjimu, untuk menjadi suami terbaik."
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Bismillah...
Mmm..I want to share you this story, I hope you read it until the end because this is a very much much good story..x) trust me, you'll feel motivated to be better after this, InsyaAllah :)

Dia Mencium Wangi Surga

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya... diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah."
Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud."
Seorang Doktor bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta'ala.
Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat." (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
Ia melanjutkan kisahnya,
"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalllah ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta ... kisah belum selesai...
Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."
Aku katakan, "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya)
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fhushilat:30- 32)


@Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Bismillah.
Seorang Bos menugaskan anak buahnya untuk pergi ke ujung Indonesia Timur untuk sebuah kepentingan bisnis. Agar semua tugas bisa terpenuhi ia memberi bekal tiket pesawat, uang makan, uang akomodasi dan perbekalan lainnya. Karena jaraknya cukup jauh maka anak buah tersebut harus transit dahulu di Bali beberapa jam.Ketika transit di Bali, sang anak buah begitu terpesona dengan Bali. Melihat begitu banyak orang dari berbagai bangsa di Airport membuatnya terkesima.Karena masih ada waktu, ia lalu memutuskan untuk melihat suasana di luar airport. Bahkan ia menyempatkan diri naik taksi ke Denpasar dan Kuta.Makin lama melihat Bali ia makin tertarik.Ia lalu memutuskan untuk menginap di sana, ia gunakan semua fasilitas kantor dari bosnya untuk menikmati indahnya Bali, sampai akhirnya uangnya habis.Tanpa terasa ia sudah seminggu berada di Bali.Menurut Anda apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan Bosnya?Apakah ia akan dipuji? Apakah ia akan diberi hadiah? Atau ia akan dihukum?Apakah ia berani bertemu Bosnya?

Tahukah Anda, pegawai itu mewakili sebagian besar manusia?Ya, manusia. Mungkin juga kita.Manusia diciptakan Allah untuk tugas menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Hidup di dunia adalah transit bagi manusia untuk hidup yang lebih lama setelah kematian, dan bertemu Sang Pencipta.Tapi banyak orang yang lupa bahwa ada tujuan lain setelah kehidupan di dunia.Manusia sudah terlalu bersuka cita dengan keindahan transit di dunia dan melupakan akhirat.Kita diberi fasilitas otak, raga dan jiwa untuk bisa sampai ke tujuan bertemu dengan sang Pencipta.Tapi kita gunakan semua potensi kita hanya untuk kebutuhan sementara transit di dunia.Semoga saja kita tidak termasuk orang yang terlena di transit dunia ini.Amin.

Isa Alamsyah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bismillah. ini adalah artikel yang Irna baca di catatan teman Irna. Irna suka ceritanya. selamat membaca :)

Entah kenapa, akhir-akhir ini tampaknya bahasan ini mendominasi. Bagaimana kemuliaan wanita itu teraih dengan ‘melawan arus’ kebanyakan orang, saat semua orang berlomba-lomba menarik perhatian dengan menunjukkan keindahannya, seorang muslimah sejati menutupinya. Ketika kebanyakan muslimah sibuk dengan model jilbab terbaru, ia menjulurkan jilbabnya semakin panjang. Ketika mata kebanyakan wanita terpaut pada manisnya pria-pria korea, ia menundukkan pandangannya (loh? Hehe). Tidak salah. Jilbab, penampilan, tingkahlaku, hanya sedikit dari banyak factor penilaian kemuliaan seorang muslimah.

Maka siapkah, calon bidadari-bidadari surga ini, melawan arus yang satu ini?

Suatu ketika seorang akhwat masuk ke sebuah kampus, dalam waktu yang tidak lama ia segeram menjadi perbincangan seluruh aktivis kampus, termasuk di kalangan ikhwan. Karena apa? Ia adalah seorang akhwat yang memiliki wajah yang bisa dikatakan tidak terlalu mempesona kalau hanya melihat sekilas, tapi manis. Yang menarik adalah sikapnya yang santun, lembut, cerdas, baik hati dan tidak sombong, seorang aktivis kampus sejati dengan hafalan qur’an belasan juz, sangat menjaga diri dari interaksinya dengan lawan jenis, dan...berpenampilan paling rapi dibandingkan akhwat-akhwat yang lain di tempat itu. Ya, mereka menemukan seseorang yang baru, yang lain dari yang lain. Sosok akhwat dambaan ikhwan dan sosok ummahat dambaan ummat, sangat mencintai Allah dan RasulNya, juga memiliki ghirah yang luar biasa dalam perjuangan. Hmm...dia memang bidadari dunia. Jangankan ikhwan, sesama akhwat pun disamping akan iri, juga akan ikut berdebar bila berada di dekatnya. Segan. Subhanallah...

Tetapi, dirinya merasa risih dengan perbincangan seluruh aktivis kampus apalagi setelah diketahuinya tidak sedikit ikhwan yang memendam rasa padanya. Lantas dia bertanya-tanya dalam hatinya, dia sudah menjaga diri sebaik yang ia mampu, tetapi mengapa masih seperti ini? Ia sama sekali tidak pernah berniat ’menggoda’ dan ’menarik perhatian’. Seperti sudah bakat alaminya untuk eksis di suatu komunitas. Maka setiap kali ia teringat betapa orang-orang memperbincangkan dirinya, dan satu dua tiga ikhwan dan seterusnya mulai menyatakan minatnya, dia makin merasa risih hingga berniat menggunakan cadar dengan harapan akan mengurangi intensitas ’gangguan’.

Jika dibandingkan dengan kisah yang ini, jelas akan berbeda.

Seorang akhwat berada di kampus yang sama. Akhwat yang biasa. Tidak cantik, juga tidak terlihat manis. Mungkin jika dilihat lebih saksama akan terlihat garis-garis manis sekaligus keras di wajahnya. Aktivitasnya juga biasa. Mungkin iya sibuk sana sini, tapi tidak banyak yang tahu. Dia sama baik, sama santun, sama menjaga interaksi, tetapi dengan cara yang berbeda. Dia memperlakukan orang sesuai dengan karakternya sehingga seseorang yang berinteraksi dengannya akan merasa nyaman di dekatnya. Interaksi dengan lawan jenis pun berusaha senormal mungkin meski dia tetap meminimalisir interaksi untuk hal-hal yang tidak urgent. Dia sangat biasa. Tidak menjadi perbincangan, jelas. Sangat biasa, karena ia bukan pula aktivis yang terpandang di kampus atau lingkungan sekitarnya. Terkadang ia iri dengan akhwat pertama tapi, ia sangat mengaguminya. Tapi ia sadar betul, bukan itu yang ia cari. Ia tahu, Allah memandangnya. Ya, tidak banyak yang tahu, dia pun sama cinta pada Allah dan RasulNya, dan sama semangat dalam perjuangannya.

Apa yang berbeda? Ya jelas beda laaah....hehe

Memang tampaknya tidak terlihat ada yang tertarik pada akhwat kedua, seolah pandangan semua orang tertarik pada akhwat pertama.

Tapi terlihat ironis ketika akhwat kedua sibuk diuji dalam langkah strategi perjuangannya, akhwat pertama disibukkan dengan strategi mengatasi ’gangguan’ ikhwan, sesuatu yang sudah dijanjikan dan sudah dipastikan Allah ada untuk setiap manusia, disaat Islam, yang diperjuangkannya, terpuruk dan membutuhkan fokus lebih dari para pejuangnya. Mengapa seperti itu?

Mungkin banyak perbedaan diantara keduanya, tapi yang paling dominan disini adalah : Ke’mencolok’kan tingkah.

Akhwat pertama punya satu hal yang mungkin-bisa-disebut-kesalahan

, yaitu terlalu mencolok dan siapapun bisa melihatnya. Sekilas ia memang bidadari dunia...tapi bidadari tidak dinikmati semua orang.

Kita tahu, bahwa setiap bagian dari wanita adalah keindahan, dari segi fisik, pemikiran, ruh, semuanya indah. Dan semua itu menggoda, termasuk tingkahnya. Kenapa keseluruhannya begitu menggoda? Karena pada keseluruhan wanita ada setan. Ada setan dalam setiap bagian wanita, bahkan dalam sms pun ada setannya.

Kalau wanita adalah permata, akhwat pertama ada di permukaan. Kilaunya memancar kemana-mana dan semua orang dapat menemukannya. Akhwat kedua, ia terkubur dalam-dalam, tertempa lebih keras di kedalaman, dan kilaunya memang terpancar keluar, tapi tidak semua dapat menemukan sumber kilauannya, tidak semua dapat menemukannya. Ia dilindungi Allah di kedalamannya.

Allah menjaganya lebih dari yang lain, dan hanya merelakannya ditemukan oleh orang yang luar biasa. Yang menemukannya bisa jadi biasa, tapi ia luar biasa, karena dapat menemukan sesuatu yang luar biasa pada sesuatu yang bisasa.

Permata yang tertempa lebih keras jauh lebih indah, bahkan di kedalaman pun kilaunya tetap memancar.

Ya, tidak semua orang dapat menemukannya. Yang menemukannya hanya yang luar biasa. Yakinlah ia luar biasa, ukhti, karena permata itu dicari.

Mungkin saja...mungkin...ini maksudnya ”yang baik untuk yang baik dan yang buruk untuk yang buruk.”

Jangan sampai kita merasa bertemu dalam kondisi yang sama, tapi tidak tahu sama baik atau sama buruk. Ukhti, kau bisa saja luar biasa, tapi hati-hati mendapatkan yang biasa, salah satu dari ribuan yang menaruh perhatian padamu.

Dua akhwat ini hanya satu contoh dari sekian banyak tipe ’muslimah idaman’ yang menarik perhatian banyak orang. Ke’mencolok’kan tidak selalu seperti ini.

Karena permata itu dicari, ukhti...

Teruntuk para ukhti : ayo fokus,,,temukan kedalaman dimana kau dilindungi olehNya. Ayo fokus! Din ini membutuhkan jejakmu lebih untuk tegak. Buktikan dan azamkan, kita tidak akan pernah cemas dengan apa yang telah dijanjikan Allah untukmu. Buktikan, bahwa masalah-sesuatu-yang-pasti ini tidak akan mengganggu konsentrasimu untuk terus bergerak. Ayo buktikan! Karena itu menentukan sedalam apa Allah akan menyimpanmu dan melindungimu. Dan menyelamatkanmu di hari Akhir nanti.

Teruntuk para Akhi : Tetap fokus! Karena itu yang menentukanmu menjadi seseorang yang biasa atau luar biasa. Seseorang yang luar biasa, adalah yang dapat menemukan sesuatu yang luar biasa pada sesuatu yang biasa. Hanya orang biasa yang tertarik pada sesuatu yang luarbiasa dan semua orang juga melihatnya luar biasa. Kau hanya menjadi orang biasa saat menjadi sama dengan banyak orang. Jangan pernah cemaskan sesuatu yang pasti ada untukmu. Tetap fokus! Perjuangan masih panjang. Kau akan menemukannya di perjalanan.^^v tetap maju.

Karena jalan ini tidak mungkin dapat ditempuh oleh orang-orang yang cemas akan masa depan rejeki dan kehidupannya
(Hasan Al-Banna)

Fokuskan langkah, pikiran dan hati. Katanya mau berjuang??? Jangan cemas. Dan jangan bahas lagi ini, geli ^^

Jangan cemas, karena Sang Cinta sudah menjanjikannya untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Bismillah.
Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Beliau seringkali hadir dalam pengajian Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam. Pada suatu hari, Asma bertanya kepada Rasulullah:

“Ya Rasululloh, engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka".


Maka, Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam menoleh kepada sahabatnya sambil berkata:“Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini" Lalu Rasulullah berkata pada Asma,

" Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”


Mendengar jawaban Rasulullah, Asma’ berlalu dengan wajah berseri-seri dan mengucapkan tahlil sebagai tanda kemenangan karena mendapatkan apa yang mereka impikan sebagai kaum wanita. Tak lama setelah itu, para shahabiyah yang mendengar kabar Asma’ selaku duta mereka pun mengumandangkan takbir setelah mendengar jawaban Rasululloh. Allahu Akbar !
:)
(HR Ibnu Abdil Bar)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

HELLO!

HELLO!
24 y/o wife, graphic designer, and bachelor of communication design, who live within dreams of positive changes.

SAY HI ON

SAY HI ON

SOCIAL MEDIA

  • FACEBOOK
  • INSTAGRAM
  • TWITTER
  • ZAID
  • YOUTUBE
  • ZELINA

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  July (1)
      • Maryam and the story of her birth process
  • ►  2017 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  October (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
  • ►  2013 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  September (4)
    • ►  July (6)
    • ►  June (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (12)
    • ►  December (10)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)

recent posts

Popular Posts

  • Another Phase of Life
    In the name of Allah, the Most Gracious Most Merciful Hello & Assalamualaikum everyone, How are yoouu? Been so long! I'm so happ...
  • Bus Station #1 : BAIK!
    Bismillah. :) So grateful that I can post this time. :) Hope life being nice to you lately,my pray as usual. :) Di tengah research pr...
  • My Calligraphy Was Sold at the Price of...
    Salaam. As I promised, I'm gonna tell you about my Calligraphy competition. HERE WE GO!! but first, I'm so sad that today is my al...
  • Between Love & Work & Effort
      Happy Ramadhan! You know, It's been several weeks I was keeping my self on writing this topic. Kinds of work in my internship pr...
  • The Amazing Qur'an Journal Book
    In the name of Allah Most Gracious, Most Merciful Salam. How are You? Thank you for coming again..so you really want to know what's ...

Page Views

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates